Pulau
Madura merupakan salah satu pulau di Indonesia, dengan potensi
keanekaragaman, baik sumber daya alam maupun budaya. Mata pencaharian
penduduk Madura pada umumnya sebagai petani dan nelayan yang pada
akhirnya menimbulkan tradisi dalam berhuni maupun dalam budaya
kehidupannya.
Masyarakat agraris Madura, memunculkan suatu bentuk permukiman
masyarakat yang dikenal dengan pola permukiman taneyan lanjang, sebagai
suatu bentuk untuk menjaga hubungan kekerabatan dalam masyarakat.
Permukiman taneyan lanjang tersebar dan berpencar-pencar dalam
kelompok-kelompok kecil, mengikuti letak tegalan yang mereka miliki.
Pola peletakan bangunannya pun disesuaikan dengan kebutuhan penghuninya,
yaitu adanya musholla (langgar), sebagai pusat/sumbu utama pola
cluster, rumah induk (roma tongghu), dapur (dapor), kandang, kamar mandi
(pakeban), serta lumbung (lombung).
Mata pencaharian lain bagi masyarakat Madura daerah
pesisir, yaitu sebagai nelayan dan petani garam. Usaha pegaraman yang
diusahakan masyarakat, berada pada kawasan Madura timur dan bagian
selatan, mengingat curah hujan yang lebih rendah di kawasan tersebut.
Selama musim hujan, di lahan-lahan kering yang menjadi tambak garam
tersebut berubah menjadi tambak-tambak ikan (Laporan Singkat Situasi
Pertanian di Madura 1977 dalam Jonge 1989), sehingga usaha yang
dijalankan bergantian menurut musim yang sedang berlangsung.
Saat ini daerah penghasil garam terbesar di Madura berada di Kabupaten
Sumenep, yaitu di Desa Pinggir Papas serta daerah pesisir sekitarnya.
Sebagai salah satu wilayah yang berada di kawasan Madura timur wilayah
tersebut menjadi pintu gerbang Pulau Madura untuk kawasan timur, yaitu
melalui pelabuhan Kalianget, serta pelabuhan-pelabuhan kecil yang ada di
pantai ujung timur Pulau Madura, seperti Gresik Putih, Dungkek dan
wilayah sekitarnya. Tidak tertutup kemungkinan budaya luar masuk ke
kawasan tersebut. Budaya-budaya tersebut masuk melalui masyarakat luar
yang membawa budaya aslinya maupun masyarakat Madura sendiri yang
merantau dan kembali membawa budaya di perantauan (Amiuza et al. 1996).
Dengan adanya penyesuaian terhadap keadaan alam, maka perbedaan
karakteristik arsitektur tradisional Madura dari masyarakat agraris
pertanian dengan masyarakat petani garam menambah keragaman variasi
tipologis karakteristik permukiman yang disesuaikan dengan kondisi mata
pencaharian yang mereka tekuni. Pola pembentukan tata ruang yang
terjadi dipengaruhi letak tambak yang cenderung mengelilingi
permukiman, sehingga berdasarkan hal-hal yang mempengaruhi, pola
permukiman yang ada, memiliki kemungkinan berbeda dengan pola
permukiman masyarakat yang bermata pencaharian sebagai petani ladang.
Demikian pula dengan kebutuhan ruang dalam skala makro maupun mikro
serta bahan penyusun bangunan yang disesuaikan dengan kebutuhan
masing-masing penghuninya dan kondisi alam setempat.
Desa Pinggir Papas yang terletak di pesisir timur Pulau Madura memiliki
kemungkinan untuk mendapat pengaruh dari salah satu kebudayaan asing
yang pernah singgah di daerah tersebut. Kondisi penduduk yang bermata
pencaharian sebagai petani garam dengan tambak garam sebagai sumber mata
pencaharian menimbulkan suatu ciri tersendiri bagi kawasan Desa
Pinggir Papas ini. Kedua hal tersebut tentunya sedikit-banyak akan
membawa pengaruh berupa produk budaya yang beragam serta sisi lain dari
kehidupan masyarakat setempat dengan kekhasannya.
Berdasarkan latar belakang tersebut, maka penulis mencoba menggali lebih
dalam mengenai karakteristik permukiman yang terjadi pada masyarakat
petani garam di Desa Pinggir Papas, Kabupaten Sumenep, sehingga nantinya
diharapkan dapat memberikan suatu gambaran baru mengenai pola
permukiman yang khas dari masyarakat setempat, sebagai salah satu bentuk
adaptasi terhadap lingkungannya. Dengan adanya gambaran pola
permukiman yang terbentuk, maka akan menambah variasi tipologis pola
permukiman masyarakat Madura, selain pola taneyan lanjang yang lebih
dikenal sebagai bentuk permukiman tradisional masyarakat Madura.
sumber shinsyaule.blogspot.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar